Senin, 09 Maret 2020

TANAH LONGSOR



Pengertian
Terdapat banyak ahli yang mendefinisikan tentang tanah longsor. Salah satunya yaitu Cruden (1991) mengatakan tanah longsor merupakan pergerakan suatu massa batuan, tanah, atau bahan rombakan meterial penyusun lereng (yang merupakan percampuran tanah dan batuan) menuruni lereng.

Penyebab
Pada prinsipnya tanah longsor terjadi bila gaya pendorong pada lereng lebih besar daripada gaya penahan. Gaya penahan umumnya dipengaruhi oleh kekuatan batuan dan kepadatan tanah. Sedangkan gaya pendorong dipengaruhi oleh besarnya sudut lereng, air, beban serta berat jenis tanah batuan. 
Tanah longsor memiliki beberapa penyebab:
  • Jenis Tanah
Tanah yang mempunyai tekstur renggang, lembut yang sering disebut tanah lempung atau tanah liat dapat menyebabkan longsoran. Apa lagi ditambahan pada saat musin penghujan kemungkinan longsor akan lebih besar pada tanah jenis ini. Hal ini dikarenakan ketebalan tanah tidak lebih dari 2,5 m dengan sudut lereng 22 derajat. Selain itu kontur tanah ini mudah pecah jika udara terlalu panas dan menjadi lembek jika terkena air yang mengakibatkan rentan pergerakan tanah.
  • Curah Hujan 
Musim kemarau yang panjang akan menyebabkan terjadinya penguapan air di permukaan tanah dalam jumlah besar. Hal itu mengakibatkan munculnya pori-pori atau rongga tanah hingga terjadi retakan dan merekahnya tanah permukaan. Pada saat hujan, air akan menyusup ke bagian yang retak. Tanah pun dengan cepat mengembang kembali. Pada awal musim hujan, kandungan air pada tanah menjadi jenuh dalam waktu singkat. Hujan lebat pada awal musim dapat menimbulkan longsor karena melalui tanah yang merekah itulah, air akan masuk dan terakumulasi di bagian dasar lereng, sehingga menimbulkan gerakan lateral. Apabila ada pepohonan di permukaan, pelongsoran dapat dicegah karena air akan diserap oleh tumbuhan. Akar tumbuhan juga berfungsi sebagai pengikat tanah.
  • Kemiringan Lereng 
Lereng atau tebing yang terjal akan memperbesar gaya pendorong. Lereng yang terjal terbentuk karena pengikisan air sungai, mata air, air laut, dan angin. Kemiringan lereng dinyatakan dalam derajat atau persen. Kecuraman lereng 100 persen sama dengan kecuraman 45 derajat. Selain memperbesar jumlah aliran permukaan, makin curam lereng juga memperbesar kecepatan aliran permukaan, dengan itu memperbesar energi angkut air.
Klasifikasi kemiringan lereng untuk pemetaan ancaman tanah longsor dibagi dalam lima kriteria diantaranya yaitu lereng datar dengan kemiringan 0-8%, landai berombak sampai bergelombang dengan kemiringan 8-15%, agak curam berbukit dengan kemiringan 15-25%, curam sampai sangat curang 25- 40%, sangat curam dengan kemiringan >40%. Wilayah yang kemiringan lereng antara 0-15% akan stabil terhadap kemungkinan longsor, sedangkan di atas 15% potensi untuk terjadi longsor pada kawasan rawan gempa bumi semakin besar.
  • Penggunaan Lahan 
Penggunaan lahan (land use) adalah modifikasi yang dilakukan oleh manusia terhadap lingkungan hidup menjadi lingkungan terbangun seperti lapangan, pertanian, dan permukiman. Permukiman yang menutupi lereng dapat mempengaruhi penstabilan yang negatif maupun positif. Sehingga tanaman yang disekitarnya tidak dapat menopang air dan meningkatkan kohesi tanah, atau sebaliknya dapat memperlebar keretakan dalam permukaan baruan dan meningkatkan peresatan.
Penggunaan lahan seperti persawahan, perladangan, dan adanya genangan air di lereng yang terjal. Pada lahan persawahan akarnya kurang kuat untuk mengikat butir tanah dan membuat tanah menjadi lembek dan jenuh dengan air sehingga mudah terjadi longsor. Sedangkan untuk daerah perladangan penyebabnya adalah karena akar pohonnya tidak dapat menembus bidang longsoran yang dalam dan umumnya terjadi di daerah longsoran lama. 
  • Getaran 
Getaran yang terjadi biasanya diakibatkan oleh gempa bumi, ledakan,getaran mesin, dan getaran lalu lintas kendaraan. Akibat yang ditimbulkannya adalah tanah, badan jalan, lantai, dan dinding rumah menjadi retak. 
  • Susut muka air danau atau bendungan
Akibat susutnya muka air yang cepat di danau maka gaya penahan lereng menjadi hilang, dengan sudut kemiringan waduk 220ᵒ mudah terjadi longsoran dan penurunan tanah yang biasanya diikuti oleh retakan.
  • Adanya beban tambahan 
Adanya beban tambahan seperti beban bangunan pada lereng, dan kendaraan akan memperbesar gaya pendorong terjadinya longsor, terutama di sekitar tikungan jalan pada daerah lembah. Akibatnya adalah sering terjadinya penurunan tanah dan retakan yang arahnya ke arah lembah
  • Pengikisan/Erosi
Pengikisan banyak dilakukan oleh air sungai ke arah tebing. Selain itu akibat penggundulan hutan di sekitar tikungan sungai, tebing akan menjadi terjal.
  • Adanya material timbungan pada tebing
Untuk mengembangkan dan memperluas lahan pemukiman umumnya dilakukan pemotongan tebing dan penimbunan lembah. Tanah timbunan pada lembah tersebut belum terpadatkan sempurna seperti tanah asli yang berada di bawahnya. Sehingga apabila hujan akan terjadi penurunan tanah yang kemudian diikuti dengan retakan tanah. 
Tanah Longsor terjadi jika dipenuhi tiga keadaan, yaitu: 
  • Kelerengan yang curam,
  • Terdapat bidang peluncur di bawah permukaan tanah yang kedap air. 
  • Terdapat cukup air (dari hujan) di dalam tanah di atas lapisan kedap, sehingga tanah jenuh air. Air hujan yang jatuh dari di atas permukaan tanah kemudian menjenuhi tanah sangat menentukan kestabilan lereng, yaitu menurunnya tanah sangat menentukan kestabilan lereng, menurunnya ketahanan geser tanah (t) yang jauh lebih besar dari penurunan tekanan geser tanah (s), sehingga faktor keamanan lereng (F) menurun tajam (F=t/s), menyebabkan lereng rawan longsor.
Hasil gambar untuk gelincir karnawati
Proses Terjadinya Tanah Longsor 
Pergerakan massa anah/batuan pada lereng dapat terjadi akibat interaksi pengaruh antara beberapa kondisi yang meliputi geologi, morfologi, struktur geologi, hidrogeologi dan tata guna lahan. kondisi- kondisi tersebut saling berpengaruh sehingga mewujutkan suatu kondisi lereng yang mempunyai kecendurungan atau berpotensi untuk begerak (Karnawati, 2005). Kondisi lereng demikian disebut kondisi rentan untuk bergerak. Jadi, pengertian rentan disini berarti berpotensi atau kecenderungan untuk bergerak namun belum mengalami gerakan.
Proses dan tahapan terjadinya gerakan tanah secara sistematik dapat digambarkan sebagai berikut:
Hasil gambar untuk terjadinya gerakan tanah karnawati
Dari gambar tersebut dijelaskan bahwa terjadinya proses gerakan tanah melalui beberapa tahapan, yaitu:
1. Tahap stabil
2. Tahap rentan
3. Tahap kritis
4. Tahap bener-benar bergerak
Gambar di atas juga menunjukan bahwa penyebab gerakan tanah dapat dibedakan faktor pengontrol (faktor-faktor yang mengkondisikan suatu lereng menjadi rentan atau siap bergerak). Penyebab langsung yang berupa pemicu yaitu proses-proses yang merubah kondidi lereng dari kondisi rentan atau siap bergerak menjadi kondisi benar-benar bergerak setelah melampaui kondisi kritis.
Menurut proses terjadinya (Swanston dan Swanson, 1980) tanah longsor dikelompokkan menjadi jatuhan, longsor, aliran, rayapan, dan bandang. Masingmasing tipe terjadi pada medang dengan karateristik yang berbeda satu dengan yang lain, hal ini karena bencana tanah longsor disebabkan oleh beberapa faktor.
Hasil gambar untuk klasifikasi longsor

Dampak Tanah Longsor
A. Dampak positif

  1. Tanah longsor menumbuhkan motivasi kepada masyarakat untuk waspada terhadap bencana longsor susulan ataupun bencana yang lain.
  2. Meningkatkan rasa peduli terhadap korban bencana dan kepedulian terhadap sesama dan lingkungan.
  3. Meningkatkan kesadaran diri supaya tidak melakukan penebangan hutan, memperluas lahan ataupun pemanfaatan hutan yang merugikan.
  4. Motivasi dan penelitian oleh ahli geologi tentang penyebab tanah longsor.
  5. Sadar akan pentingnya peran manusia dalam menjaga keseimbangan lingkungan hidup. 
  6. Melestarikan hutan untuk memaksimalkan potensi sumber daya alam hutan itu sendiri.
  7. Sadar akan manfaat hutan lindung bagi keselamatan makhluk hidup di dunia ini.
B. Dampak Negatif
1. Korban Jiwa
Masyarakat akan merasa kesulitan ketika bencana Tanah longsor, karena terjadi secara mendadak dan kadang kala tidak ada gejala akan terjadinya bencana tersebut. Kebanyakan bencana alam terjadi di dunia ini memakan korban jiwa, salah satunya bencana tanah longsor ini. Bencana pada umumnya terjadi ketika hujan lebat dan masyarakat pasti berteduh dirumah masing-masing. Sementara itu, tanah longsor merupakan bencana alam yang datang secara tiba-tiba seperti halnya tsunami . Kemungkinannya sangat kecil ketika terjadi bencana tersebut dan masyarakat mau menyelamatkan diri. Semakin meningkatnya korban jiwa akibat bencana alam tanah longsor ini, juga berdampak mengurangi sumber daya manusia yang mempunyai potensi. Ketika bencana longsor terjadi sebenarnya kita dapat meminta bantuan terhadap relawan SAR yang mempunyai potensi sumber daya manusia dalam bidang tersebut.
Para relawan pun juga kesulitan dalam mengevakuasi korban dari bencana tersebut, karena tidak semudah yang dibayangkan. Dalam mengevakuasi harus berhati-hati karena posisi korban tertimbun tanah. Selain mereka kesulitan dalam mengevakuasi, mereka juga harus waspada jika ada longsor susulan. Hal tersebut menyebabkan menghambat proses evakuasi yang kadang kala korban berhasil dievakuasi hingga berhari-hari.

2. Kehilangan Tempat Tinggal
Hal yang juga akan dialami oleh masyarakat adalah kehilangan tempat tinggal. Rumah masyarakat yang disekitar terasering sebenarnya menjadi perhatian khusus, karena kemungkinan besar rawan longsor. Pengertian terasering yang dimaksud tersebut sebenarnya tidak semua jenis lahan terasering, hanya yang mempunyai kemiringan yang melebihi batas saja. Ketika terjadi bencana longsor, rumah penduduk yang akan rusak bahkan hancur yang berada di daerah lereng terlebih dahulu.
Penyebab utama hal tersebut, karena tanah yang dekat dengan lereng itu mudah mengalami pergeseran setiap waktu. Pergeseran tanah di daerah lereng terjadi tidak hanya pada musim hujan, namun di musim kemarau pula. Sehingga ketika musim hujan tiba, rongga tanah akibat pergeseran di musim kemarau terisi air dan longsor dengan cepat. Sekuat apapun cakar ayam sebuah rumah di daerah lereng, kemungkinan besar tetap tidak bisa bertahan atau pun kokoh.
3. Terputus Jalur Transportasi
Disamping merugikan masyarakat sekitarnya, juga merugikan masyarakat luar daerah yang sedang melakukan perjalanan dan melintas di area tersebut. Hal itu terjadi ketika kejadian bencana itu disekitar jalur transportasi, terutama yang sering digunakan para pengemudi kendaraan. Jalur transportasi yang berada disekitar perbukitan, lembah, hutan dan pegunungan itu sering terjadi pengalihan jalur karena terjadi bencana lonsor.
4. Perekonomian Tersendat
Yang dimaksud dengan perekonomian tersendat, saat tanah longsor terjadi tentunya akan merusak sumber mata pencaharian para warga. Ketika hal itu terjadi, alur perekonomian mulai terputus, seorang produsen tidak dapat memproduksi barang dagangannya lagi. Sedangkan konsumen mempunyai kebutuhan yang aktif selalu, neraca perekonomian masyarakat mulai terputus karena dampak bencana ini. Sumber daya alam yang biasanya dimanfaatkan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari juga semakin berkurang, karena punah terkena dampak bencana ini.
5. Rusaknya Infrastruktur
Bencana ini juga berakibat fatal pada infrastruktur terutama pada pemukiman penduduk disekitar tanah longsor itu. Pemukiman masyarakat tentu akan mengalami kerusakan sesuai berdasarkan separah apa kejadian longsor tersebut. Selain itu, berdampak pula pada kerusakan sarana kesehatan, pendidikan serta tempat peribadatan. Jika dihitung materi, selain memakan korban jiwa yang banyak juga sangat merugikan dalam hal materi. Terutama bagi masyarakat sekitar daerah tanah longsor tersebut.
6. Trauma Psikis
Bencana longsor tidak hanya menimbulkan kerugian fisik, namun juga menimbulkan kerugian psikis bagi masyarakat sekitar. Pada umumnya makhluk hidup didunia ini, terutama manuasia mempunyai mental seseorang berbeda-beda, ada yang tidak bisa menerima keadaan yang terjadi pada dirinya, keluarganya atau pun orang terdekat. Akibat tanah longsor dapat membahayakan kondisi psikis masyarakat sekitar,karena kurangnya pengetahuan dapat menjadi diri sendiri (fisik dan psikis). Salah satu bentuk trauma psikis masyarakat menjadi bingung, dimana akan tinggal, bagaimana melangsungkan kehidupannya tanpa rumah dan lahan pertaniannya.
7. Harga Tanah Turun
Ketika berbicara harga tanah tentunya juga berbicara tentang alih fungsi tanah dikarenakan tanah tersebut didaerah yang kurang menguntungkan. Akibat bencana tanah longsor, tanah yang mestinya perekonomian masyarakat atau pun untuk lahan pekerjaan malah lahan tersebut dikosongkan. Hal tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kerugian yang besar. Kadang karena masyarakat belum paham tentang ciri-ciri lahan basah, seringkali membeli tanah yang kiranya dapat harga murah dan bisa di tanami padi. Namun tidak lama terjadi longsor di lahan tersebut yang membuat pemilik harus menjualnya kembali. Karena pemilik tidak ingin menanggung resiko dan berfikir bahwa lahan tersebut sudah tidak ada gunanya lagi. Maka dari itu sebelum tanah tersebut longsor dan harga tanah turun, masyarakat juga harus paham tentang cara melestarikan tanah agar lubang pori-pori tidak terlalu dalam dan tanah tersebut padat.
8. Keselamatan Masyarakat Sekitar Terancam
Masyarakat yang awalnya nyaman dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari akan berubah drastis menjadi tidak tenang, karena keselamatannya terancam oleh bencana longsor ini. Mereka menjadi ragu ketika akan melakukan aktivitas seperti biasanya, apalagi ketika cuaca yang sudah berawan hitam dan ada tanda-tanda akan hujan lebat. Masyarakat yang lahan sekitarnya rawan bencana tentunya juga harus paham tentang jenis-jenis hujan yang mengamcam keselamatan mereka. Disisi lain hujan juga bisa dimanfaatkan, dan masyarakat juga harus paham tentang pemanfaatan air hujan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
9. Rusaknya Sanitasi Lingkungan
Sanitasi atau pembudayaan hidup bersih ini menjadi perihal utama masyarakat untuk menjaga keutuhan planet bumi ini dari bencana alam. Salah satu bentuk sanitasi ini adalah menjaga saluran air dan pengendalian pencemaan air untuk mengurangi kerusakan sanitasi lingkungan. Masyarakat sekitar juga perlu belajar tentang sumber daya alam yang dapat diperbaharui agar teringat akan pentingnya air untuk melangsungkan kehidupan.

Senin, 02 Maret 2020

COVID-19 (sebelumnya Novel Coronavirus 2019 atau 2019-nCoV)

Hasil gambar untuk novel coronavirus

Definisi COVID-19?
COVID-19 (sebelumnya dikenal sebagai novel coronavirus 2019 atau 2019-nCoV) adalah coronavirus yang baru diidentifikasi yang menyebabkan berjangkitnya penyakit pneumonia. Hal ini pertama kali diidentifikasi pada Desember 2019 di kota Wuhan, Provinsi Hubei, Cina.
Sejak itu, kasus telah diidentifikasi di banyak negara lain termasuk akhir-akhir ini ditemukan di Indonesia.
Virus ini merupakan keluarga virus yang dikenal sebagai coronavirus. Dinamai seperti itu karena berbentu seperti paku dengan mahkota di permukaannya. Sebagian besar virus ini menginfeksi kelelawar, babi, dan mamalia kecil. Tetapi mereka bermutasi dengan mudah dan dapat melompat dari hewan ke manusia, dan dari satu manusia ke manusia lainnya. Dalam beberapa tahun terakhir, mereka telah menjadi pemain yang berkembang dalam wabah penyakit menular di seluruh dunia.

Apa saja gejala penyakitnya dan bagaimana kita mengidentifikasi pada diri sendiri?
Virus ini menginfeksi saluran pernapasan bagian bawah. Pasien pada awalnya mengalami demam, batuk dan sakit, dan dapat bertambah berat menjadi sesak napas dan komplikasi dari pneumonia. Pasien mungkin mengalami mual, dengan muntah dan diare. Beberapa bagian hanya sakit ringan, atau terinfeksi tetapi tidak sakit. Yang lain sakit ringan selama beberapa hari, kemudian dengan cepat mengalami gejala pneumonia yang lebih parah.

Bagaimana prognosa pasien yang terkena virus ini?
Tingkat kematian berkisar antara 2% dan sekitar 3,4%., namun dapat berubah setiap harinya.
Covid-19 tidak lebih berbahaya daripada patogen lain yang seperti SARS, yang meletus di Cina pada 2002 dan menyebar secara global pada 2003. SARS membunuh sekitar 10% dari orang yang terinfeksi. Itu tidak begitu mematikan dibandingkan MERS atau Ebola. Tetapi virus baru ini menyebar dari satu orang ke orang lain lebih mudah daripada SARS.

Penularan virus corona?Pada awalnya, virus ini diduga berasal dari hewan yang kemudian ditularkan ke manusia. Selanjutnya, virus ini semakin menyebar dan mulai menular dari manusia ke manusia. Ada faktor yang bisa meningkatkan risiko manusia terinfeksi virus corona, di antaranya: 
  • Melalui udara, virus corona bisa menyebar saat seseorang tidak sengaja menghirup ludah atau bersin dan batuk dari orang yang sebelumnya sudah terinfeksi. Penyebaran virus ini juga disebut rentan terjadi saat pengidap berbicara tanpa ada pelindung sama sekali, misalnya masker. 
  • Menyentuh benda yang sudah terkontaminasi, virus corona yang keluar dari tubuh pengidapnya bisa mengontaminasi benda sekitar. Dari situlah penyebaran  virus juga bisa terjadi, yaitu saat seseorang memegang mulut atau hidung tanpa mencuci tangan setelah menyentuh benda yang terpapar air liur pengidup. 
  • Kontak jarak dekat, misalnya bertukar cairan dari pernapasan. Hal ini disebut meningkatkan risiko terjadinya penularan virus corona dari manusia ke manusia.
Virus corona bisa menyerang siapa saja, tetapi risikonya menjadi lebih besar pada orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah serta orang yang sudah lanjut usia. 
Berapa lama masa inkubasinya?Masa inkubasi adalah masa dimana pasien mulai terkena virus sampai muncul tanda dan gejala. Masa inkubasi virus ini adalah 2-14 hari setelah infeksi. 
Apakah ada tes untuk deteksi dini?Ya, ada tes diagnostik, yang merupakan satu-satunya cara untuk memastikan apakah seorang pasien memiliki virus corona atau infeksi lain. Karena gejala Covid-19 sama seperti flu, tes hanya diberikan kepada orang-orang yang menurut dokter atau petugas kesehatan masyarakat mungkin menderita penyakit itu. Di provinsi Hubei Cina, selain tes diagnostik juga dilakukan test rontgen dada dan tanda gejalan yang muncul/Tes darah baru-baru ini dilisensikan di Cina untuk menguji orang-orang terhadap antibodi terhadap virus, untuk menentukan berapa banyak yang telah terinfeksi.
Bisakah masker melindungi kita?Pakar kesehatan dan pembuat masker mengatakan hanya masker respirator N95 yang dapat digunakan kembali yang disertifikasi oleh lembaga independen yang dapat melindungi dari virus. Masker kertas atau busa poliuretan jangan menyaring partikel yang lebih kecil yang bertanggung jawab untuk mentransmisikan agen infeksi. Mereka mungkin membantu mencegah orang sakit agar tidak menular ke orang lain.WHO dan para ahli lainnya menyampaikan bahwa keampuhan masker juga bisa dilihat dari penggunaanya. Penggunaan masker yang tepat mampu melindungi dari viruscorona.
Bagi penderita dan orang yang bersinggungan langsung dengan pasien suspect corona, maka masker yang paling tepat adalah masker N95.
masker N95
Masker N95
Berikut cara pemakaian masker agar Anda terhindar dari virus corona.
  1. Cuci tangan dengan sabun atau gel cairan pembersih antikuman sebelum menggunakan masker
  2. Pastikan kondisi masker baru dan dalam keadaan bersih
  3. Pasang masker sampai menutup bagian hidung, mulut, dan dagu
  4. Saat memasang masker, posisikan bagian berwarna di luar dan bagian putih di dalam
  5. Saat memasang masker, pastikan sisi kawat yang bisa ditekuk berada di atas Upayakan tidak ada celah pada masker.
  6. Caranya, tekuk kawat atau bagian keras masker sampai rapat mengikuti lekuk hidung Kaitkan kedua karet ke telinga, dan pastikan masker terpasang sempurna

Hasil gambar untuk cara menggunakan masker
Apa lagi yang bisa saya lakukan untuk melindungi diri?Hal terpenting yang dapat dilakukan adalah mencuci tangan sesering mungkin, setidaknya selama 20 detik setiap kali. Cuci secara teratur ketika berada di kantor, ketika pulang, sebelum makan, dan di lain waktu Anda menyentuh permukaan. Kita juga dapat menggunakan pembersih tangan berbahan dasar alkohol. Jangan menyentuh mata, hidung, atau mulut, virus dapat masuk ke tubuh kita dengan cara itu. Bersihkan benda dan permukaan secara teratur dengan pembersih rumah tangga, yang akan membunuh virus. Jaga jarak dari orang yang sakit.
Apakah ada obat untuk mengobati coronavirus?Saat ini belum ada obat atau vaksin khusus untuk virus baru. Tetapi beberapa ilmua sedang dalam pengembangan atau sedang mempelajari. Dua uji klinis di China dan satu di AS mengevaluasi remdesivir, obat antivirus dari Gilead Sciences Inc. yang juga diuji untuk Ebola.
Sebuah rumah sakit di Wuhan sedang melakukan uji klinis menggunakan kombinasi dua obat untuk HIV yang telah diuji pada pasien MERS di Arab Saudi. 

Minggu, 01 Maret 2020

tentang CSA (Child Sexual Abuse)

Hasil gambar untuk child sexual abuse

Apa itu Child Sexual Abuse (CSA)?

CSA atau pelecehan seksual terhadap anak mencakup berbagai perilaku seksual yang terjadi antara anak dan orang yang lebih tua. Perilaku seksual ini dimaksudkan untuk membangkitkan gairah seksual pada orang yang lebih tua, umumnya tanpa mempertimbangkan reaksi atau pilihan anak dan tanpa pertimbangan untuk efek perilaku pada anak. Perilaku yang melakukan pelecehan seksual seringkali melibatkan kontak tubuh, seperti dalam kasus ciuman seksual, sentuhan, belaian alat kelamin, dan hubungan seks oral, anal, atau vagina. Namun, bisa tidak melibatkan kontak, seperti dalam kasus paparan genital ("berkedip"), tekanan verbal untuk seks, dan eksploitasi seksual untuk tujuan prostitusi atau pornografi.


Bentuk pelecehan seksual anak termasuk:
  • Eksibisionisme, atau mengekspos diri kepada anak di bawah umur
  • Cumbuan
  • Hubungan
  • Masturbasi di hadapan anak di bawah umur atau memaksa anak di bawah umur untuk bermasturbasi
  • Panggilan telepon, pesan teks, atau interaksi digital yang tidak senonoh
  • Memproduksi, memiliki, atau berbagi gambar atau film porno anak-anak
  • Perdagangan seks
  • Perilaku seksual lain apa pun yang membahayakan kesejahteraan mental, emosional, atau fisik anak
Siapa pelaku pelecehan seksual pada anak?
Di beberapa negara, didefinisikan pelaku setidaknya lima tahun lebih tua daripada korbannya agar perilaku tersebut dianggap pelecehan seksual anak.
Kebanyakan pelaku mengenal korban namun lebih banyak bukan saudaranya. Dari bebagai sumber disebutkan bahwa sekitar 60% pelaku adalah kenalan yang tidak memiliki hubungan saudara, seperti teman keluarga, pengasuh, atau tetangga. Sekitar 30% dari mereka yang melakukan pelecehan seksual terhadap anak-anak adalah kerabat dari anak tersebut, seperti ayah, paman, atau sepupu. Dan 10% sisanya adalah orang asing.
Pelaku dapat memanipulasi korban untuk tetap diam, seringkali pelaku menggunakan posisi kekuasaannya atas korban untuk memaksa atau mengintimidasi anak. Mereka mungkin memberi tahu anak itu bahwa kegiatan itu normal atau bahwa mereka menikmatinya. Pelaku dapat mengancam jika anak tersebut menolak untuk berpartisipasi atau berencana untuk memberi tahu orang dewasa lainnya.

Bagaimana cara untuk mengetahui kalau seorang anak telah mengalami pelecehan seksual?
Seringkali tidak ada tanda-tanda yang jelas bahwa seorang anak telah mengalami pelecehan seksual. Karena pelecehan seksual sering terjadi secara pribadi, dan karena sering tidak menghasilkan bukti fisik, pelecehan seksual anak bisa sulit dideteksi.
Beberapa tanda-tanda yang perlu dipertimbangkan:
Tanda fisik:
  • Pendarahan, memar, atau bengkak di area genital
  • Pakaian dalam yang berdarah, sobek, atau bernoda
  • Kesulitan berjalan atau duduk
  • Infeksi saluran kemih
  • Nyeri, gatal, atau terbakar di area genital

Tanda perilaku:
  • Perubahan higiene, seperti menolak untuk mandi atau mandi berlebihan
  • Muncul pobia
  • Menunjukkan tanda-tanda depresi atau gangguan stres pasca-trauma
  • Mengungkapkan pikiran bunuh diri, terutama pada remaja
  • Memiliki masalah di sekolah, seperti ketidakhadiran atau penurunan nilai
  • Pengetahuan atau perilaku seksual yang tidak pantas
  • Mimpi buruk atau mengompol
  • Terlalu protektif dan peduli pada saudara kandung
  • Kembali ke perilaku regresif, seperti mengisap jempol
  • Lari dari rumah atau sekolah
  • Mencederai diri sendiri atau bahkan ada upaya untuk bunuh diri
Apa dampak jangka panjang dari pelecehan seksual anak?
Jika pelecehan seksual anak tidak dilakukan perawatan secara efektif, gejala jangka panjang dapat berlanjut hingga dewasa, antara lain:
  • PTSD dan / atau kecemasan
  • Depresi dan pemikiran bunuh diri
  • Kecemasan dan gangguan seksual
  • Citra tubuh yang buruk dan harga diri yang rendah
  • Penggunaan perilaku tidak sehat, seperti penyalahgunaan alkohol, penyalahgunaan narkoba, melukai diri sendiri.
Apa yang dapat dilakukan orang tua untuk membantu menjaga anak-anak tetap aman?
  • Bicaralah dengan anak-anak tentang perbedaan antara sentuhan yang baik dan sentuhan yang buruk. Beri tahu anak itu bahwa jika seseorang mencoba menyentuh tubuhnya dan melakukan hal-hal yang membuat anak itu merasa tidak nyaman, ia harus mengatakan TIDAK kepada orang itu dan segera memberi tahu orang tua tentang hal itu.
  • Biarkan anak-anak tahu bahwa mereka memiliki hak untuk melarang orang lain menyentuh tubuh mereka dengan cara yang buruk. Biarkan mereka tahu bahwa respek tidak selalu berarti melakukan apa yang diperintahkan oleh orang yang berwenang untuk mereka lakukan. 
  • Beri tahu anak-anak bahwa pelaku dapat menggunakan internet, dan pantau akses anak-anak dalam penggunaan situs web online.
  • Yang paling penting, berikan lingkungan yang aman dan penuh perhatian sehingga anak-anak merasa dapat berbicara secara bebas tentang pelecehan seksual yang dialaminya.
Apa yang harus dilakukan orang tua jika mereka mencurigai telah terjadi pelecehan?
  • Jika seorang anak mengatakan dia telah dilecehkan, cobalah untuk tetap tenang.
  • Yakinkan anak itu bahwa apa yang terjadi bukan salahnya.
  • Segera cari pemeriksaan medis dan konsultasi psikologis.
  • Ketahuilah bahwa anak-anak dapat pulih dari pelecehan seksual, terutama jika mereka mendapat dukungan dari orangtua yang peduli dan tersedia.
  • Seringkali sangat menyakitkan untuk mengakui bahwa anak kita telah dieksploitasi secara seksual. Terapi dapat membantu orangtua mengatasi perasaan mereka sendiri tentang pelecehan sehingga mereka dapat memberikan dukungan kepada anak-anak mereka.
"Intervensi atau penanganan awal yang efektif penting untuk mengurangi atau mencegah dampak negatif dari kekerasan seksual yang dialami korban seperti, PTSD kronis, depresi, kesulitan interpersonal dan penyalahgunaan zat".

Senin, 24 Februari 2020

Pentingnya tenaga profesional kesehatan mental di Sekolah

Hasil gambar untuk kesehatan mental di sekolah
Kesehatan mental yang baik sangat penting untuk keberhasilan anak-anak di sekolah dan masyarakat. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa siswa yang menerima dukungan sosial-emosional dan kesehatan mental mencapai akademik yang lebih baik. Iklim sekolah, perilaku di ruang kelas, pembelajaran di tempat kerja, dan kesejahteraan siswa semuanya meningkat juga. Kesehatan mental bukan hanya tidak adanya penyakit mental tetapi juga meliputi kesehatan sosial, emosional, dan perilaku serta kemampuan untuk mengatasi tantangan hidup. Jika tidak terpenuhi, masalah kesehatan mental bisa saja muncul seperti masalah akademik dan perilaku, putus sekolah, dan kenakalan anak.
Menurut The U.S. Department of Health and Human Services, satu dari lima anak dan remaja mengalami masalah kesehatan mental selama masa sekolah mereka. Contohnya termasuk stres, kecemasan, penindasan atau bullying, masalah keluarga, depresi, ketidakmampuan belajar, dan penyalahgunaan alkohol dan zat. Serta muncul masalah kesehatan mental yang serius, seperti perilaku yang merugikan diri sendiri dan bunuh diri terus meningkat.
Sekolah adalah tempat yang ideal untuk memberikan layanan kesehatan mental kepada anak-anak dan remaja. Hampir setiap komunitas memiliki sekolah dan kebanyakan anak menghabiskan setidaknya 6 jam sehari di sana. Sekolah sudah seharusnya menawarkan konteks ideal untuk pencegahan, intervensi, perkembangan positif, dan komunikasi rutin antara sekolah dan keluarga. Pekerja profesional yang diminta bekerja di sekolah seperti psikolog, pekerja sosial sekolah, dan perawat sekolah mengenal siswa, orang tua, dan staf lainnya, yang berkontribusi pada aksesibilitas layanan. Bahkan, beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa siswa lebih cenderung mencari konseling ketika layanan tersedia di sekolah. Namun masih banyak juga yang tidak memanfaatkan layanan tersebut. Di negara kita malah lebih banyak berasumsi bahwa yang ke guru bimbingan dan konseling (BK) merupakan anak yang nakal.
Layanan kesehatan mental sekolah sangat penting untuk menciptakan dan mempertahankan sekolah yang aman. Peningkatan akses ke layanan kesehatan mental dan dukungan di sekolah sangat penting untuk meningkatkan keamanan fisik dan psikologis siswa dan sekolah, serta kinerja akademik dan keterampilan memecahkan masalah. Dukungan kesehatan mental di sekolah yang mencakup pembelajaran sosial-emosional, kesehatan mental, ketahanan, dan koneksi positif antara siswa dan orang lain sangat penting untuk menciptakan budaya sekolah di mana siswa merasa aman dan diberdayakan untuk melaporkan masalah keselamatan, yang terbukti menjadi salah satu yang paling penting. Strategi keamanan sekolah yang efektif. Selain itu, setelah krisis, para profesional kesehatan mental yang dipekerjakan di sekolah memberikan dukungan yang memfasilitasi kembali ke keadaan normal, berkelanjutan, dan dapat membantu mengidentifikasi dan bekerja dengan siswa dengan kebutuhan yang lebih intens atau berkelanjutan.
Sangat diharapkan tenaga profesional kesehatan mental di sekolah mampu untuk melakukan deteksi dini terkait perubahan pada siswa-siswanya.
WHO menyatakan bahwa terdapat beberapa tanda yang harus diwaspadao oleh guru atau tenaga profesional kesehatan mental di sekolah, antara lain:
1. Siswa mengkespresikan pikira, perassan atau rencana untuk mengakhiri hidup termasuk melalui cerita atau gambar
2. Perubahan secara tiba-tiba dalam kinerja di kelas
3. Perubahan suasana hati misal menjadi pendiam dan sering menangis
4. Mengekpresikan putus asa
5. Perubahan perilaku dan menarik diri dari orang sekitar termasuk kehilangan minat dalam kegiatan di sekolah
6. Sering konflik dengan teman atau sswa lain
7. Sering tidak hadir atau bolos sekolah
8. Diketahui menggunakan alkohol atau obat terlarang
Dan kalau guru atau tenaga profesional menemukan tanda tanda tersebut, segera mungkin untuk melakukan pendekatan dan bisa terapi lebih lanjut.

Jaga masa depan anak-anak kita sebagai penerus bangsa

Kamis, 20 Februari 2020

Sesuatu tentang "Bullying"



Masih dalam ingatan seorang perempuan di sekolah X mendapatkan perlakuan tidak selayaknya dari beberapa teman lelakinya (mungkin bisa dikatakan bukan teman kalau sampai melakukan hal tersebut).
Hal tersebut sering kita dengar dengan “Bullying”
Definisi Bullying
Intimidasi atau lebih kerennya dikenal dengan "Bullying" menggambarkan ketidakseimbangan kekuasaan atau kekuatan, di mana pelaku menggunakan kekuatan yang lebih besar untuk berulang kali menyebabkan kerugian bagi korbannya secara langsung maupun tidak langsung. Jadi kalo kekuatan tersebut seimbang bukan merupakan bullying.
Agresi atau perilaku dari bullying tersebut dapat berupa:
1.   Agresi fisik
Perilaku dalam agresi fisik dapat berupa memukul, menendang, mencubit, mendorong, atau menyerang orang lain.
2.   Agresi verbal
Berupa penggunaan kata-kata untuk menyakiti orang lain dengan menyebut nama, menghina, membuat komentar seksual atau fanatik, ejekan keras, ejekan, meniru, atau ancaman verbal.
3.  Agresi relasional
Memanipulasi hubungan sehingga seseorang diabaikan atau dikecualikan.
4.   Cyberbullying
Merupakan bullying yang terbaru karena semakin berkembangnya teknologi, internet dan media sosial. Pada intinya korban terus menerus mendapatkan pesan negative dari pelaku bullying baik dari sms, pesan di internet dan media sosial lainnya.
Bentuknya berupa:
  • Mengirim pesan yang menyakitkan atau menggunakan gambar
  • Meninggalkan pesan voicemail yang kejam
  • Menelepon terus menerus tanpa henti namun tidak mengatakan apa-apa (silent calls)
  • Membuat website yang memalukan bagi si korban 
  • Si korban dihindarkan atau dijauhi dari chat room dan lainnya
  • “Happy slapping” – yaitu video yang berisi dimana si korban dipermalukan atau di-bully lalu disebarluaskan
Peran dalam Bullying
Peran-peran yang terlibat dalam bullying meliputi:
1.   Bullies (pelaku bullying)
Pelaku bullying biasanya agresif baik secara verbal maupun fisik, ingin terkenal, sering membuat onar, mencari-cari kesalahan orang lain, pendendam, iri hati, hidup berkelompok dan menguasai kehidupan sosial di sekolahnya. Selain itu pelaku bullying juga menempatkan diri di tempat tertentu di sekolah atau di sekitarnya, merupakan tokoh popular di sekolahnya, gerak geriknya sering kali dapat ditandai dengan sering berjalan di depan, sengaja menabrak, berkata kasar, dan menyepelekan/ melecehkan.
2.   Victim (korban)
Seseorang yang sering menjadi target dari perilaku agresif, tindakan yang menyakitkan dan hanya memperlihatkan sedikit pertahanan melawan penyerangnya.
Korban bullying biasanya merupakan seseorang yang baru di suatu lingkungan, anak termuda di sekolah, biasanya yang lebih kecil, terkadang ketakutan, mungkin tidak terlindung, anak yang pernah mengalami trauma atau pernah disakiti sebelumnya dan biasanya sangat peka, menghindari teman sebaya untuk menghindari kesakitan yang lebih parah, dan merasa sulit untuk meminta pertolongan. Selain itu juga anak penurut, anak yang merasa cemas, kurang percaya diri, mudah dipimpin dan anak yang melakukan hal-hal untuk menyenangkan atau meredam kemarahan orang lain, anak yang perilakunya dianggap mengganggu orang lain, anak yang tidak mau berkelahi, lebih suka menyelesaikan konflik tanpa kekerasan, anak yang pemalu, menyembunyikan perasaannya, pendiam atau tidak mau menarik perhatiaan orang lain, pengugup, dan peka.
Selanjutnya korban merupakan anak yang memiliki ciri fisik yang berbeda dengan mayoritas anak lainnya, dan anak dengan ketidakcakapan mental dan/atau fisik, anak yang memiliki ADHD (attention deficit hyperactive disorder) mungkin bertindak sebelum berpikir, tidak mempertimbangkan konsekuensi atas perilakunya sehingga disengaja atau tidak menggangu bully, anak yang berada di tempat yang keliru pada saat yang salah. ia diserang karena bully sedang ingin menyerang seseorang di tempat itu pada saat itu juga.
3.   Bully-victim
Yaitu pihak yang terlibat dalam perilaku agresif, tetapi juga menjadi korban perilaku agresif.
4.   Neutral
Pihak yang tidak terlibat dalam perilaku agresif atau bullying. Biasanya sebagai penonton saja.

Faktor Penyebab Terjadinya Bullying
Penindasan atau bullying dapat terjadi dari beberapa faktir yang mempengaruhinya.
1.   Keluarga
Pelaku bullying seringkali berasal dari keluarga yang bermasalah: orang tua yang sering menghukum anaknya secara berlebihan, atau situasi rumah yang penuh stress, agresi, dan permusuhan. Anak akan mempelajari perilaku bullying ketika mengamati apa yang terjadi pada orang tua mereka, dan kemudian meniru ke teman-temannya.
2.   Sekolah
Masih banyak sekolah sering mengabaikan keberadaan bullying ini. Akibatnya, anak-anak sebagai pelaku bullying akan merasa bebas tanpa ada tekanan yang kuat untuk melakukan intimidasi terhadap anak lain.
3.   Faktor Kelompok Sebaya.
Anak-anak ketika berinteraksi dengan teman di sekitar rumah atau sekolah, kadang kala terdorong untuk melakukan bullying. Beberapa anak melakukan bullying dalam usaha untuk membuktikan bahwa mereka bisa masuk dalam kelompok tertentu, meskipun mereka sendiri merasa tidak nyaman dengan perilaku tersebut. Dan ada juga yang berasumsi “daripada saya yang dibully mendingan ikut membully.
4.   Kondisi lingkungan sosial
Kondisi lingkungan sosial dapat pula menjadi penyebab timbulnya perilaku bullying. Salah satu faktor lingkungan social yang menyebabkan tindakan bullying adalah kemiskinan. Mereka yang hidup dalam kemiskinan akan berbuat apa saja demi memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga tidak heran jika di lingkungan sekolah sering terjadi pemalakan antar siswanya.
5.  Tayangan televisi dan media cetak
Televisi dan media cetak membentuk pola perilaku bullying dari segi tayangan yang mereka tampilkan. Survey yang dilakukan kompas (Saripah, 2006) memperlihatkan bahwa 56,9% anak meniru adegan-adegan film yang ditontonnya, umumnya mereka meniru geraknya (64%) dan kata-katanya (43%).

Dampak Bullying
Bullying mempunyai dampak tidak hanya ke korban saja, namun bisa ke pelaku atau ke saksi ketika bullying terjadi.
1.  Bagi korban
Korban bullying biasanya bukan pemberani, memiliki rasa cemas dan rendah diri. Berikut beberapa dampak bagi korban:
  • Mempengaruhi konsentrasi (baik konsentrasi belajar atau konsentrasi bekerja)
  • Mempengaruhi prestasi
  • Menghindari tempat terjadinya bully (sekolah atau tempat kerja)
  • Muncul masalah fisik (luka di tubuh, sakit kepala bahkan bisa mengakibatkan cacat seumur hidup)
  • Muncul perilaku menarik diri dari lingkungan sosial
  • Marah (baik pada dirinya sendiri atau pelaku bullying)
  • Menjadikan korban minder atau harga diri rendah
  • Masalah kesehatan mental (ketakutan, susah tidur dan susah makan, mimpi buruk, rentan stress, depresi dan bahkan ada yang bunuh diri)

2.  Bagi pelaku
Dampak bagi pelaku Bullying biasanya mereka merasa memiliki kekuasaan dan memiliki rasa kepercayaan diri yang tinggi, dan merasa paling kuat. Di khawatirkan bisa terus-menerus dilakukannya di lingkungan dimana dia berada.
Beberapa dampak bagi pelaku:
  • Tidak dapat mencipatkan hubungan yang harmonis
  • Tidak memiliki empati
  • Menganggap dirinya yang paling kuat
  • Memandang orang lain lebih rendah 


3.   Dampak bagi saksi pembullyian
  • Merasa cemas
  • Mendekati pelaku untuk ikut-ikutan membully
  • Takut suatu saat menjadi korban
  • Mengalami trauma
  • Membenci lingkungan
Upaya mengatasi bullying
Dalam rangka mencegah bullying, banyak pihak telah menjalankan program dan kampanye anti bullying di sekolah-sekolah, baik dari pihak sekolah sendiri, maupun organisasi-organisasi lain yang berhubungan dengan anak. Namun, pada nyatanya, bullying masih kerap terjadi.
Pencegahan 
Dilakukan secara menyeluruh dan terpadu, dimulai dari anak, keluarga, sekolah dan masyarakat. 
1) Pencegahan melalui anak dengan melakukan pemberdayaan pada anak agar:
  1. Anak mampu mendeteksi secara dini kemungkinan terjadinya bullying 
  2. Anak mampu melawan ketika terjadi bullying pada dirinya 
  3. Anak mampu memberikan bantuan ketika melihat bullying terjadi (melerai/mendamaikan, mendukung teman dengan mengembalikan kepercayaan, melaporkan kepada pihak sekolah, orang tua, tokoh masyarakat)


2) Pencegahan melalui keluarga, dengan : 
  1. Menanamkan nilai-nilai keagamaan dan mengajarkan cinta kasih antar sesama 
  2. Memberikan lingkungan yang penuh kasih sayang sejak dini dengan memperlihatkan cara beinterakasi antar anggota keluarga. 
  3. Membangun rasa percaya diri anak, memupuk keberanian dan ketegasan anak serta mengembangkan kemampuan anak untuk bersosialiasi 
  4. Mengajarkan etika terhadap sesama (menumbuhkan kepedulian dan sikap menghargai), berikan teguran mendidik jika anak melakukan kesalahan 
  5. Mendampingi anak dalam menyerap informasi utamanya dari media televisi, internet dan media elektronik lainnya.
3) Pencegahan melalui sekolah 
  1. Merancang dan membuat desain program pencegahan yang berisikan pesan kepada murid bahwa perilaku bully tidak diterima di sekolah dan membuat kebijakan “anti bullying”. 
  2. Membangun komunikasi efektif antara guru dan murid 
  3. Diskusi dan ceramah mengenai perilaku bully di sekolah 
  4. Menciptakan suasana lingkungan sekolah yang aman, nyaman dan kondusif. 
  5. Menyediakan bantuan kepada murid yang menjadi korban bully. 
  6. Melakukan pertemuan berkala dengan orangtua atau komite sekolah
Hal-hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pemahaman anak mengenai perundungan (bullying), diantaranya:
1.  Memberitahu pada anak bahwa bullying tidak baik dan tidak dapat dibenarkan dengan alasan maupun tujuan apapun. Setiap orang layak diperlakukan dengan hormat, apapun perbedaan yang mereka miliki.
2. Memberitahu pada anak mengenai dampak-dampak bullying bagi pihak-pihak yang terlibat maupun bagi yang menjadi “saksi bisu”. 
3.  Mengenal cara-cara menghadapi bullying.
Anak-anak terutama yang beresiko menjadi korban bully dibekali pengetahuan dan keterampilan ketika mereka menjadi sasaran dari bullying agar dapat menghadapinya dengan aman tanpa menggunakan cara-cara yang agresif atau kekerasan.
Cara-cara tersebut dapat berupa
  • Mengabaikan pelaku
  • Menjauhi pelaku, atau menyampaikan keberatan mereka terhadap pelaku dengan terbuka dan percaya diri.
  • Memberi contoh atau teladan

Pulseless Electrical Activity (PEA) dan Asistol

PEA merupakan irama jantung yang bukan ventrikel fibrilasi (VF), bukan ventrikel takikardi dan bukan asistol pada pasien tanpa nadi. B...